pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Mobile Blog


klik
elrumi.pep.zone

13 Juni 2012 ; 23.30

27.06.2012 05:21 EDT
Malam itu terasa makin sunyi.
Setengah perjalanan malam hampir terlewati.
Aku masih terjaga di sebuah bilik rumah sakit.
Hanya tinggal dua pasien yang terbaring di ruang kebidanan.
Keduanya tengah meraung-raung menahan rasa sakit.
Keduanya menunggu detik-detik kelahiran sang buah hati.
Aku gelisah.
Tak jelas lagi apa yang musti ku perbuat.
Tapi aku memahami situasi.
Tak ada yang dapat disalahkan.
Hanya situasi yang sanggup menjawabnya sendiri.

Sudah lama aku mengerti kalau melahirkan adalah peristiwa penting bagi seorang ibu.
Tapi tak pernah sanggup membayangkan penderitaan yang dilaluinya
ketitika saat itu tiba.
Dan mengapa juga peristiwa itu menjadi amat menentukan.
Sejak sejarah manusia ini dimulai.
Al Qur'an mengilustrasikannya dengan kata yang berat.
Penuh beban.
Bahkan sejak bulan-bulan pertama kehamilan.
"Wahnan 'alâ wahnin", teramat berat.

Hatiku tak tega berdiri di samping istri.
Tapi juga tak sanggup menjauhinya.
Anak ku akan lahir.
Anak yang ku nanti-nanti.
Anak yang kan melengkapi kebahagiaan ku.
Di rumah kan ada suasana baru.
Amat membahagiakan, meski perjalanannya teramat menyiksa.
Bahkan hingga perih ini tak lagi sanggup berkata-kata.
Hanya ada satu kata, "Allaah!"

Di tengah kegelisahan penantian.
Diantara rintihan nyeri istri yang terdengar seperti riuh gelombang.
Ditengah kekhawatiran keselamatan anak ku yang barangkali kekurangan oksigen karena air ketuban istri ku pecah dini.
Diantara keresahan akan keselamatan istriku, karena telah empat jam berlalu namun si jabang bayi tak mau beranjak dari pembukaan empat, walau telah dua botol infus yang berinduksi (berisi perangsang) telah masuk ke tubuhnya.
Nabi Zakariya datang, lalu mendekap kuat mengungkap pengalamannya sendiri.
Aku berkeringat takut.
Bibirku kaku.
"Kamu akan dianugerahi seorang anak",
bisiknya pelan.
"Aku tahu",
lanjutnya penuh kharisma,
"Keadaan istrimu sangat mengkhawatirkan",
aku hanya bisa pasrah.
Teringat tadi pagi, ketika dokter spesialis menolak persalinan istri ku dan menyarankan ke rumah sakit.
"Resiko tinggi" katanya.
Aku makin gelisah, genggaman istri ku terasa bertambah erat.
Kuku-kukunya seakan menancap dalam di kulitku.
Nabi Zakariya pun menghilang setelah mengusap ubun-ubunku layaknya usapan tanda sayang dari almarhum ayah ku.
Seraya mengucap, "bismillah"
Waktu terus bergerak mendekati tengah malam.
Telah jauh dari perkiraan bidan-suster yang memperkira bayi kami akan lahir jam 9 malam tadi.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan, "ibu suci pembukaannya udah lengkap.. ayo siapa yang mau nolongin?"

Lima menit kemudian, lima menit terpanjang dalam hidup ku.
Setelah melalui perjuangan hidup mati istriku.
Tangisan yang kami tunggu pecah bersama teriakan syukur kami.
“Anak masa depanku telah lahir, alhamdulillaah..”

Beban panjang terbayang di kelopak mata.
Aku harus mengantarkannya hingga amanah ini hidup sempurna, menjadi hamba-Nya dan menjadi ‘qurrota a'yun‘.
Seolah menapaki jejak Nabi Zakariya, aku menjerit, khawatir tak sanggup menerima amanah untuk menjadikannya generasi Robbi rodliya.
Seperti apakah anak ini ke depan?
Lalu apa yang engkau maksud dengan “mawali”, wahai Zakariya?
Akan sanggupkah aku?

Aku bertanya pada Nabi.
Dalam lembaran buku-buku yang masih tersisa dalam rekaman jejak asuh Rosulullooh.
Dimata Nabi shollalloohu 'alayhi wa alayhi wasallam, anak-anak adalah mutiara.
Dalam banyak keadaan, Nabi memperlakukan anak dengan sangat hati-hati dan hormat.
Bahkan, seperti banyak diriwayatkan, dalam posisi sedang melaksanakan sholat pun, Nabi tetap memperhatikannya, dengan penuh kasih.
Ketika masih dalam usia balita, Nabi menggendongnya dengan sepenuh hati.
Ketika memasuki usia anak, Nabi pun mendidiknya dengan penuh cinta.
Lalu Nabi mendidiknya untuk melaksanakan sholat dan berprilaku karimah.
Dan ketika mulai memasuki usia dewasa, Nabi selalu mendengar keluh-kesahnya, mengikuti kecenderungan minat dan cita-citanya.

Amat terpujilah engkau wahai Rosulullooh.
Engkau perlakukan anak-anak sebagai amanah yang harus di pelihara, dan bukan untuk "dipenjara".
Engkau didik mereka dengan memerdekakannya dalam ruang cita-cita mereka, dan bukan menjeratnya dalam kehendak dan cita-cita engkau sendiri secara paksa.
Benar, kata sang filsuf Kahlil Gibran, orang tua tidak punya hak untuk membesarkan jiwa anak-anaknya.
Mereka hanya boleh membesarkan raganya, meskipun di akui bahwa raga adalah cermin keharmonisan komunikasi yang akan berpengaruh pada masa depan jiwa dan kepribadian mereka.
Orang tua hanya bisa menunjukkan jalan yang sebaiknya ditempuh, tapi tidak untuk mengeksploitasinya.
Sebab anak-anakmu, lanjut Gibran, bukanlah anak-anakmu, tapi anak masa depan.

Napas inilah yang tercermin dalam keseluruhan kepribadian Ibrahim beserta istri-istrinya, Sarah dan juga Hajar.
Sebagai salah satu perwujudan syukur atas karunia-Nya memperoleh keturunan, baik Ismail dari Hajar maupun Ishak dari Sarah, Ibrahim pun memohon agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik, manusia yang memper-Tuhan-kan Allah, dan tidak mempertuhankan berhala-berhala seperti yang banyak dilakukan orang-orang pada zamannya.

Anak-anak Ibrahim adalah anak-anak perjuangan.
Mereka adalah buah berbagai pengorbanan yang harus dihadapi Sarah ataupun Hajar.
Pengorbanan Hajar untuk meninggalkan Palestina dan berpindah ke Mekkah bukanlah hal yang sederhana.
Perih, meski tetap ikhlas menjalaninya.
Ia akhirnya menetap di lembah yang kemudian menjadi sumber air zam-zam.
Ia lewati hari-hari yang sepi itu.
Ia pastikan keputusannya karena rasa empatinya yang tulus dan mendalam pada Sarah.
Ia tahu perasaan Sarah perih, karena belum juga di karuniai keturunan.

Kasih sayang Ibrahim kepada Ismail serta kecintaannya yang semakin bertambah kepada Hajar telah memupuk benih-benih kecemburuan Sarah.
Ia semakin cemas kalau suatu saat Ibrahim akan meninggalkannya.
Ia tidak ingin cinta Ibrahim kepadanya akan berkurang.
Rasa iri hatinya kepada Hajar tidak lagi bisa disembunyikan.
"Kenapa


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.