pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


hikaru koto - Woman Asian
ceritanabsu.pep.zone

Pembantu Sementara

Suatu ketika, pembantu yang hampir empat tahun ini bekerja di rumahku mohon pamit. Dia akan pulang ke kampungnya, sebuah kota kecamatan di Jateng, dan pekan depan akan segera melangsungkan pernikahan. Karena menikah adalah hak asasi setiap orang dan lagi pula, kalau kami pikir, usianya sudah hampir 27, cukup terlambat dibanding dengan gadis-gadis kampung sekelasnya, akhirnya istriku hanya bisa melepas dan merestuinya. Kendati rencana kepulangan pembantu ini sebenarnya sudah lama kami ketahui, namun tak urung hari itu istriku blingsatan juga. Pasalnya sampai saat ini dia belum juga mendapatkan pengganti. Padahal dia sudah minta tolong kiri-kanan, ke saudaranya, ke teman-temannya, ke pembantu-pembantu di sekitar, termasuk ke pembantuku yang akan pulang ini sudah dipesankan untuk mencari pembantu baru. Tetapi karena mencari pembantu memang pekerjaan gampang-gampang-susah, kadang gampang sekali dan kadang susah sekali, dan kebetulan sekarang ini istriku sedang mengalami saat-saat apesnya (Istriku tak pernah mau mengambil pembantu dari Yayasan Penyalur. Aku sendiri tidak habis mengerti dengan alasannya. Padahal pikiran normalku bilang, selama ini opini kita telah terbentuk akibat pemberitaan di surat-kabar yang selalu menyampaikan hal-hal negatifnya saja). Kebingungan istriku makin bertambah manakala dia teringat dua pekan ke depan, kedua anak kami, kelas 1 dan kelas 3 SD, akan liburan kenaikan kelas, dan dia telah berjanji untuk mengajak keduanya berlibur selama tiga pekan di rumah Kakek-Neneknya. Meski pun telah kukatakan aku dapat mengurus rumah sendiri, sementara mereka berlibur, dan pakaian kotorku akan kukirim ke Laundry, tetap saja istriku kelihatan bimbang. Satu hal yang kusuka dari istriku, dia memang sangat bertanggungjawab terhadap keluarga. Istriku bilang, Dia merasa tidak enak dan tidak tenang meninggalkan aku mengurus segalanya sendiri. Dia baru bisa nyaman berlibur kalau di rumah sudah ada pembantu. Dan Dia kelihatannya mengalami dilema, antara ragu-ragu dan tak enak,sementara untuk membatalkan liburan dengan anak-anak tentu hampir mustahil, karena sudah direncanakan lama,dan dia sendiri tentu tak akan mengecewakan mereka. Ditengah kegalauan itu,tiba-tiba Wati,pembantu yang akan pulang kampung ini mengajukan sebuah usul. Bagaimana kalau dia meminta kakaknya, barang sebulan dua bulan, menjadi Pembantu Sementara di rumah kami, sebelum istriku memperoleh pembantu baru atau sambil menunggu kepastian dari calon suami yang akan dinikahinya. Istriku memang pernah minta izin padaku untuk mempekerjakan kembali si Wati, meski sudah menikah, dan disuruhnya si Wati ini membujuk sang suami agar berani mengadu nasib di Jakarta. kalau perlu buat mereka akan dikontrakkan rumah petak di pingiran kompleks. Mendengar usulan yang tiba-tiba dilontarkan itu, istriku langsung setuju. Toh, dia juga sudah cukup kenal dengan si kakak pembantuku ini yang bernama Yati (istriku memanggilnya Mbak Yati). Sang kakak memang beberapa kali menginap di rumah kami, kalau sedang ke Jakarta mengunjungi anaknya yang juga bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah di lingkungan kompleksku. Belakangan sudah tidak pernah lagi karena anaknya itu menikah dengan Satpam Pabrik di kota kecamatan. Melalui perantaraan si Satpam, keesokan harinya sang kakak telah menginterlokal istriku, dan ternyata dia menyanggupi kalau hanya untuk sementara. Bukan main gembiranya istriku ketika menyambutku pulang dari kantor. Wajahnya yang kemarin kulihat kusut, kini cerah berseri-seri. Akhir pekan itu, kami sekeluarga berangkat untuk menghadiri resepsi pernikahan Wati, pembantuku. Di tengah acara, secara tak sengaja, beberapa kali aku memperhatikan Yati, sang kakak yang sebentar lagi akan menjadi pembantu sementara di rumahku. Aku sendiri tak tahu, kenapa mataku berkali-kali melihat ke arahnya. Tapi lama-lama akhirnya aku sadar juga. Aku berkali-kali melirik karena memang ada yang menarik perhatianku. Saat itu Yati memakai kebaya pesta, yang menurutku biasa-biasa saja. Tapi karena tubuhnya memang sintal, pada akhirnya kebaya ketat itu menampilkan lekuk dan celah-celah yang menurutku sangat indah. Terus terang baru sekali ini aku memperhatikan sang kakak. Waktu dia sering bermalam di rumahku dulu aku tidak terlalu memperhatikan. Yati memang agak sedikit lebih putih dari adiknya. Juga sedikit lebih manis. Dan meski pun sudah mempunyai dua anak, dan hampir memiliki cucu pula, tubuhnya masih kelihatan kencang. Usianya dengan Wati memang terpaut cukup jauh. Dia tersenyum waktu kusalami. Tangannya halus, bibir tipisnya menampilkan gigi yang lumayan rapi, sementara lesung pipit begitu menonjol di kedua pipinya. Dengan kebayanya ini, semua lekuk tubuhnya seperti tergambar jelas. Belum lagi sebagian dada dan belahannya yang tersembul. Rasanya aku bisa mengira-ngira betapa besar buah dada dan betapa padat bongkahan pantatnya yang begitu bahenol. Hari Sabtu, pekan selanjutnya, setelah pembagian rapor, aku mengantar istri dan kedua anakku ke bandara untuk segera memulai liburan. Yati sudah ada di rumahku sejak Kamis sore. Berarti sudah tiga hari ini dia bekerja. Setelah dari bandara aku main tennis. Sampai di rumah sudah hampir jam 6. Anak-anak telepon dan bilang senang sekali liburan di rumah Kakek-Neneknya. Setelah Mandi aku nonton TV di ruang keluarga, mungkin karena terlalu lelah, Aku tertidur. Aku baru terbangun sekitar jam setengah sepuluh, karena perutku bernyanyi minta diisi. Aku ke belakang. Kamar pembantuku sudah gelap. Lalu aku ke ruang makan dan kulihat sudah ada makanan yang disediakan untukku. Jam 8 pagi hari Minggu, aku bangun.Hari ini aku berencana ke bengkel, merawat ini-itu dan mengganti ini-itu. Kepada Yati kubilang kalau aku tidak makan siang di rumah. Cukup lama aku di bengkel, karena selain merawat ini-itu dan mengganti ini-itu, aku juga tertarik untuk menambah ini-itu. Dari bengkel terus ke Senayan. Lihat pameran mobil. Di sana aku cukup senang bisa cuci mata setelah puas melihat mobilnya, bisa puas juga melihat cewek penjaganya. Bukan main, cewek-cewek muda itu, kupikir mereka semakin berani menonjolkan lekuk dan memamerkan keterbukaan. Kalau lama-lama di sini bisa-bisa aku pusing sendiri. Sampai di rumah, seperti kemarin, aku lalu mandi dan tertidur di ruang TV. Tersentak bangun sekitar jam sepuluh makan dan terus tidur lagi. Sebelum tidur sempat terlintas bayangan cewek-cewek sexy di pameran mobil tadi siang. Hari Senin sekitar jam 8 pagi aku bangun. Hari ini hari libur nasional. Aku tidak ingat ada perayaan apa. Dan karena tidak ke kantor, aku bermalas-malasan dulu di tempat tidur. Tapi ada sesuatu yang aneh kurasakan. Setelah buang air kecil dan menyiram ujungnya dengan air dingin tadi, sampai sekarang kemaluanku ternyata tetap tegak, berdiri dengan gagahnya (Bagi yang belum tahu atau bagi yang belum sadar, batang kemaluan setiap laki-laki, mulai dari bayi sampai kakek-kakek, saat bangun tidur di pagi hari pasti tegang dan baru akan normal kembali setelah buang air kecil atau diguyur ujungnya dengan air dingin). Aku mulai blingsatan. Kurasakan batangku begitu tegangnya. Biasanya setelah buang air kecil, kemaluanku akan normal lagi. Kupikir pasti gara-gara nonton pameran mobil kemarin. Untuk menenangkan si "Joni" ini aku lalu keluar, ke beranda belakang rumahku, membuat kopi, duduk dan merokok sambil membaca koran kemarin yang belum sempat kubaca. Ku bolak-balik koran dan kuhembus kuat asap rokok, namun tegangnya batangku belum turun-turun juga. Aku tidak tahu kalau saat itu, Yati, pembantu sementara di rumahku sedang berada di kamar mandi yang letaknya di kiri depanku, di seberang taman tempatku duduk. Rasanya aku pun dari tadi tidak mendengar guyuran air, atau memang aku sendiri yang sedang pusing dengan penisku hingga telingaku tak mendengar apa-apa. Aku sangat kaget ketika Yati keluar dari kamar mandi itu dengan hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dengan tenangnya dia berjalan menuju kamar. Tampaknya dia tidak mengetahui keberadaanku. Aku benar-benar terkesiap karena tubuh itu kulihat begitu molek.
Batangku tambah tegang dan sekarang malah mulai berdenyut-denyut. "Yat!", aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku memanggilnya. Kulihat dia begitu kaget, hingga hanya bisa diam mematung. Mungkin tadinya dia pikir aku belum bangun hingga dia bebas saja keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. "Kesini Yat!", kuulangi panggilanku, tetapi tetap belum tahu untuk apa aku memanggilnya. Agak ragu-ragu dia mendekat. Berjalan perlahan memutar mengelilingi taman menuju kursi panjang tempatku duduk. Makin dekat kulihat kemontokan tubuhnya. Handuk itu begitu kecil hingga sebagian dada atas, belahan dada dan sebagian besar paha putih mulusnya terlihat jelas. Dan handuk itu juga tidak begitu tebal hingga puting susunya kelihatan membayang mencuat dari balik handuk. Sungguh merangsang. "Ya, Pak", dari jauh dia sudah berhenti, menunggu. Berdiri agak canggung, kedua tangannya bergerak bingung seolah ingin menutupi "ketelanjangannya". Tubuhnya bertambah putih karena pucat. Wajahnya ditundukkan "Dekat sini... saya pengen ngomong", kataku tetap tanpa ide apa pun. "Duduk", perintahku, ketika dia sudah dekat, kugeser pantatku memberinya tempat. Dia mau duduk, tapi ragu-ragu, canggung, mungkin karena dia pikir kalau dia duduk handuknya pasti akan terangkat lebih tinggi. Aku perintahkan dia sekali lagi untuk duduk, dan benar saja... seluruh paha sampai ke pinggulnya telah terhidang mulus di depanku. Batangku kembali berdenyut. Yati kembali menundukkan wajahnya. "Lain kali, kalau keluar dari kamar mandi, jangan cuma pakai handuk begitu...", kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Aku baru sadar kalau dari tadi sejak aku memanggilnya, cuma syaraf-syaraf refleks-ku saja yang bekerja. Lalu, setelah berhasil menguasai diri kusempurnakan kalimatku, "Kalau istriku tahu, kamu bisa dimarahi". "Ya, Pak", jawabnya takut-takut. "Kamu mengerti?", tegasku. "Ya, Pak", hanya itu yang keluar dari mulutnya, sementara wajahnya masih menunduk. "Yat, kalau berbicara dengan saya, tidak perlu menunduk terus seperti itu...", kucoba melembutkan suasana. Aku dan istriku memang tidak menyukai cara-cara feodal dalam hubungan Majikan-Bedinde. "Seperti adikmu, kamu juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri disini", ternyata kalimat terakhirku ini berhasil memancingnya. Dia mengangkat wajah dan memandangku meski hanya sekilas. Lalu menunduk lagi. "Maaf ya kalau tadi saya marah", kataku setelah beberapa saat hening. "Ya, Pak". "Maksud saya..., saya cuma ngasih tahu kamu...". "Ya, Pak, saya mengerti Pak". "Kamu tahu nggak... apa akibat kamu keluar kamar mandi cuma pakai handuk begitu?", tanyaku memancingnya. Dia mengangkat wajahnya, memandangku sebentar, lalu menggeleng. "Pengen tahu?", kataku, dia mengangguk.
"Sini!", Kuraih pundaknya begitu dia mulai bergeser. lalu kudekatkan kepalaku ke wajahnya.
"Ini akibatnya... 'ini' saya jadi tegang...", bisikku di telinganya sambil menunjuk ke selangkanganku. Kulihat dia kaget, wajahnya memerah, tersipu malu. Segera kuserang dia dengan kata-kata kunci. "Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya...kan ini gara-gara kamu juga yang membuat 'ini' saya jadi tegang begini...". "Ya, Pak, saya juga malu Pak kalau orang lain tahu", Beres, pikirku. Kelihatannya dia bisa dipercaya. Tapi rasanya aku masih perlu mengujinya dulu. Saat itu Penisku semakin tegang. Sebenarnya aku sudah tak sabar ingin segera menerkam tubuh pembantuku ini. Untung masih dapat kutahan. Aku masih akan menguji ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.