pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


ceritaseks.sedarah.pep.zone

Kegilaan dengan mamaku (Final) :Sonya dan Papanya

Part 5 Kegilaan Berlanjut

“Y-yang b-benar sayang?” Kataku terkejut.
“Iya.. pah… nih coba pegang perut Sonya.. gede kan pa?” aku memegang perutnya. Buncit?? Sejak kapan?? tubuhku terasa bergetar.
“gede kan pa??” dan kurasa tubuhku semakin berguncang.
“pa…..”
“pa……… papa…”
“pa, bangun pa… udah pagi….” Perlahan semua menjadi terang, aku terjaga, ku lihat putriku berada di sisiku mengguncang-guncang tubuhku untuk membangunkanku.
“Akhirnya… bangun juga, susah amat nih bangunin papa.. gara-gara kecapekan main tadi malam yah pa? hihi..” godanya.
“Hmmm… sayang.. udah lama kamu bangunnya?? Hoooaammmh..” Aku masih mengantuk berat, mungkin karena permainan kami tadi malam. Tunggu dulu, kejadian barusan itu mimpi? Berarti dia belum hamil? Aku coba memperhatikan tubuhnya terutama bagian perutnya memastikan kalau yang ku lihat tadi memang benar sebuah mimpi, dan ternyata memang benar sebuah mimpi. Dia belum hamil, syukurlah.
“Napa pa? liatin badan Sonya kaya gitu? Hmm.. papa nafsu yah?” godanya. Selepas melakukannya tadi malam kami memang melanjutkan tidur tanpa mengenakan pakaian, sehingga kini aku dan dia sama-sama bugil.
“Siapa sih yang gak nafsu liatin kamu kaya gini?” Aku sengaja tidak memberitahukannya tentang mimpiku dan apa yang ku pikirkkan barusan.
“Dasar.. mesum” katanya manja sambil merobohkan diri di atasku dan memelukku. Pagi itu kami melakukannya lagi, persetubuhan terlarang antara ayah dan anak kandung hingga akhirnya kami harus berhenti karena kami punya kegiatan masing-masing. Dia harus ke sekolah sedangkan aku masih punya perkerjaan di kantor.
“Sayang.. mau papa antar gak?” tanyaku padanya saat kami asik menikmati sarapan.
“Hmm.. tumben, tapi boleh tuh, lagian Sonya juga lagi malas bawa motor” setujunya. Setelah itu kamipun berangkat menggunakan mobilku, mengantarnya ke sekolahnya terlebih dahulu sebelum menuju kantorku.
“Ih.. papa tangannya kemana tuh? Bukannya ke perseneling malah ke paha Sonya..”
“gak papa dong.. hehe”
“ihh.. mesum” katanya namun tetap mengabulkan permintaanku mengangkat rok smanya hingga ke pangkal pahanya memperlihatkan pahanya yang mulus.
“Tapi tetap hati-hati nyetirnya pa.. jangan keenakan gitu.. hihi”
“iya-iya..” kataku tetap berusaha fokus sambil asik sesekali mengelus pahanya yang putih mulus menggoda.
“mesum ih, apa lagi nih permintaan mesum papa yang lain?” katanya menggoda.
“hehe.. apa yah sayang, gini deh.. sekolah kamu kan masih jauh nih, kamu telanjang dong..hehe” pintaku mesum kepadanya.
“hah? Telanjang? Di dalam mobil gini?? Gak ah.. ntar ada yang liat bisa brabe..”katanya berusaha menolak permintaanku.
“Gak bakal nampak dari luar kok sayang… “ Memang seluruh jendela ataupun kaca mobil dilengkapi dengan kaca film gelap yang cukup tebal sehingga tidak akan kelihatan dalam mobil dari luar, kecuali harus mengintip dengan menempelkan hidung agar dapat melihat ke dalam.
“mau yaahh??”
“Ih.. aneh-aneh aja nih maunya... iya deh..” dia akhirnya mulai membuka seragamnya yang tadi sudah rapi melekat di tubuhnya. Dia mulai dari membuka kancing kemejanya satu demi satu.
“hmm.. beneran gak nampak dari luar kan pa?” tanyanya meminta kepastian lagi.
“Iya.. gak bakal nampak kok, kecuali orang itu ngintip, tapi siapa juga yang bakal ngintip, mobil kan lagi jalan” sepertinya dia masih cemas, aku juga merasakan demikian. Tentu saja, walaupun tidak kelihatan dari luar, tapi kan tetap saja ini di tengah jalan yang ramai kendaraan, tapi justru itu yang membuat aku semakin merasa gak karuan. Dia akhirnya menarik kemejanya sehingga kini hanya menyisakan branya.
“branya juga dong sayang.. cepetan dong.. ntar keburu sampai nih ke sekolah kamu”
“iya.. tapi deg-deg kan banget nih pa” katanya. Dia lanjutkan melepaskan branya, kemudian membuka rok smanya dan menariknya ke bawah. Kini dia tinggal mengenakan celana dalamnya saja. Tapi mobil kami sampai ke lampu merah, membuat darahku dan Sonya makin berdesir karenanya. Disekitar mobil kami banyak kendaraan lainnya dan disini anak gadisku hampir telanjang. Bahkan tepat di samping pintu tempat duduk Sonya ini ada pengendara motor yang berhenti, kalau saja dia mengintip tentu akan terlihat bagaimana keadaan Sonya ini. Lampu merah masih menunjukkan angka mundur 100, masih cukup lama.
“Sayang, itu celana dalam kamu masih ada tuh.. buka juga dong..”
“Ihh.. iya deh, Sonya buka” katanya segera mengangkat pinggulnya dari tempat duduk dan menarik celana dalamnya, akhirnya kini dia sudah telanjang bulat di dalam mobil.
“Sayang, papa mau ngerokok nih, jendelanya papa buka yah.. biar asapnya keluar” kataku.
“Hah?? Jangan pa, papa ngerokoknya ntar aja abis antarin Sonya” jawabnya.
“Dikit aja kok sayang.. lagian kan di jendela papa, bukan jendela sebelahmu.. gak apa kan??”
“bodo..” katanya dengan wajah bete. aku kemudian menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela, sehingga kini jendela di sampingku sedikit turun, sekitar seperempatnya.
“Udah hijau pah” katanya memberi tahuku. Aku lihat kedepan ternyata lampu memang sudah hijau, namun ku iseng menekan kembali tombol untuk menurunkan kaca jendela di sebelahku sehingga kini lebih dari setengahnya terbuka, lalu ku injak gas pedal.
“Ih.. pa kok d buka segitu sih.. turunin dong.. kalau gitu kan bisa nampak sama orang-orang”
“gak nampak kok kalau gak ada yang ngelihat ke sini, hehe..” mobil kami terus berjalan melewati jalanan yang semakin ramai ke arah sekolahnya. Aku kini bahkan membuka seluruhnya jendela di sebelahku namun jendela di sebelah Sonya masih aku biarkan saja tertutup. Aku pikir begini saja sudah sangat nekat dan sangat membuatku deg-degkan.
Ketika hampir tiba disekolahnya aku naikkan kembali kaca mobil disampingku namun Sonya belum ku perkenankan memakai kembali seragamnya. Kuberhentikan mobilku di dekat gerbang sekolahnya.
“Sayang.. kita gituan yukk.. hehe” pintaku.
“hah?? Disini? Ini udah sampai di depan sekolah Sonya loh pa?? lagian ntar dandanan Sonya jadi kusut lagi”
“Bentar aja kok sayang.. 3 menit cukup, papa udah nahan dari tadi nih, bentar juga keluar.. hehe” pintaku lagi.
“hmm.. iya deh.. cepetan yah pa.. ntar bel masuk keburu bunyi lagi..” katanya menyetujui. Akupun menyetubuhinya disana, diatas mobilku yang terparkir di dekat gerbang sekolahnya, dimana dia masih telanjang bulat sedangkan aku hanya mengenakan atasan. Mobilku bergoyan-goyang karena aksi kami, tentu saja sedikit mencurigakan mobil berkaca gelap terparkir disana dan bergoyang-goyang. Anak-anak sma tampak ramai menuju pintu gerbang tersebut melewati mobilku. Jika mereka penasaran, mereka bisa saja mengintip ke dalam, untung saja tidak ada yang melakukannya. Benar-benar keadaan yang membuat jantungku berdegub kencang, pastinya Sonya juga merasakan hal yang sama.
“Hmm.. sayang, papa sampai..” kataku yang sudah tidak tahan.
“Iya pa.. keluarin aja di dalam” katanya, namun aku punya ide lain.
“Sayang, papa semprotin ke rambut kamu yah??” pintaku.
“ih.. gak ah.. ada-ada aja, masa ke rambut Sonya, ntar lengket-lengket kan.. lagian pake apa mau dibersihkan?”
“Kamu jalan aja cepat-cepat ke toilet.. hehe, bersihkan disana, lama dikit bersihinnya gak papa lah.. mau ya??” pintaku lagi.
“ ihh.. ya udah deh.. dasar mesum” katanya berusaha menjongkok ke bawah jok, aku sendiri sedikit berdiri di atas jok supaya penisku tepat berada diatas rambutnya.
“Hmpph.. sayang papa keluar..”
“Crooot.. crooot” Spermaku memancar mengenai rambutnya, menggumpal disana. Terlihat beberapa tetes turun sehingga makin luas area rambutnya yang tergenang spermaku.
“Ih.. dasar.. jorok, piktor..” katanya dengan wajah yang dicemberut-cemberutkan, membuat wajahnya tampak imut menggemaskan. Akhirnya dia dengan cepat mengenakan seragamnya kembali, merapikan seragamnya dengan rambut yang sedikit kusut karena ulahku barusan. Aku iseng mengambil celana dalamnya dan menyuruhnya masuk ke sekolah tanpa mengenakan celana dalam.
“Nanti siang papa jemput ya sayang..” katanya yang telah turun dari mobil dan akan menutup pintu.
“Iya pa.. Sonya masuk dulu yah..” pintupun tertutup dan dia segera bergegas masuk kedalam sekolah karena takut bila ketahuan bahwa di atas rambutnya ada ceceran sperma, sambil menjauh dari mobilku sesekali dia menoleh ke belakang melihatku sambil tersenyum manis. Sejenak aku perhatikan dia sebelum aku jalankan mobilku. Dia terlihat risih dengan rambut kena sperma dan tanpa menggunakan celana dalam di balik rok sma nya.
Tidak lama setelah dia melewati gerbang depan,ada beberapa perempuan yang mendekatinya, sepertinya itu teman-temannya. Namun Sonya berusaha menghindar dan sedikit berlari, entah apa yang dia katakan pada teman-temannya tersebut, karena sepertinya teman-temannya sudah menyadari ada cairan putih diatas rambutnya. Setelah itu kembali ada seorang cowok yang mendekatinya, ku perhatikan sejenak cowok itu, itu Rahman, pacar anakku. Kali ini juga Sonya berusaha menghindar darinya. Tentu saja.. kalau sampai ketahuan di atas rambutnya ada ceceran sperma, entah apa yang akan dipikirkan teman-teman dan pacarnya itu. Kini dia sudah hilang dari padanganku, ku lajukan mobilku menuju kantorku. Beberapa saat setelah itu ada sms masuk, ku perhatikan bahwa Sonya yang mengirim sms itu, ku ambil hpku dan kubaca isi smsnya.
“Ih, tu kan pa.. hampir ketahuan tadi tuh.. tadi juga repot banget tuh bersihin pejunya papa.. lengket-lengket..” aku tertawa membaca isi smsnya dan ku balas smsnya.
“Hehe.. gak papa sayang.. ayo sana belajar yang rajin.. muachhh :*” isi balas smsku. Tidak lama datang balasannya.
“Muach juga papa ku :*”

**
**
Siangnya aku kembali menjemput Sonya dari sekolahnya. Sesampainya disana ku lihat Sonya sudah menunggu di depan gerbang.
“Lama amat sih pa? cape nungguin dari tadi”
“Iya.. iya.. sorry sayang.. jalanan rame.. oh ya, kali ini kamu yang bawa ya..”
“ha?? Kok tumben malah nyuruh Sonya yang bawa, biasanya Sonya gak dibolehin karena gak punya sim..”
“Kali ini boleh kok sayang.. hehe”
“Ih.. aneh, pasti papa ada maunya nih..” akhirnya kini dia yang menyetir mobil sedangkan aku duduk disebelahnya. Awal-awal tidak ada hal aneh yang ku lakukan padanya, namun lama-lama mulai juga keisenganku.
“Ih.. pa, apa-apan sih..” katanya yang mana aku sedang meraba-raba badannya yang masih berpakain lengkap itu.
“Fokus aja nyetirnya sayang.. ntar ketabrak loh..” kataku tertawa mesum.
“Iya… tapi.. geli pa.. risih nih.. papa ngapain sih”
“Sayang.. buka seragam kamu ya.. biar papa bantu, kamu tetap aja fokus nyetirnya” aku mulai membuka kancing bajunya, kemudian mulai melepaskan pakaian di tubuhnya hingga telanjang. Itu semua aku ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.