pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


divasexy.pep.zone

Solo,Surakarta Dekat Kartasura

Solo, memang kota yang sangat menggoda bagi ku. Aku bahkan memendam keinginan tinggal di Solo daripada di Jakarta. Kota ini rasanya bisa menentramkan hatiku, dan yang lebih menarik lagi adalah putri Solo itu lho.
Itulah kekagumanku buat Solo. Ini adalah perjalananku untuk kesekian kalinya ke Solo. Namun kali ini bukan dalam rangka tugas atau bisnis, tapi hanya alas an yang sangat sederhana, mau pijat saja.
Jangan salah duga dulu, aku bukan mencari pemijat wanita, tetapi pemijat pria. Dia adalah Pak Min yang cukup kondang di Solo. Tapi aku ingin juga agak berlama-lama di Solo untuk sekedar refreshing. Kalau berasalan di rumah banyak hal bisa didalihkan, bisnislah, tugaslah, ya macam-macamlah.
Aku sebelumnya sempat diperkenalkan kepada Pak Min, ahli memijat oleh saudaraku di Jogya. Sebulan lalu aku mencoba kemampuan Pak Min. Aku menginap di hotel dan Pak Min segera ku kontak. Pijatannya memang luar biasa, sakit, tetapi rematikku di bahu beberapa hari kemudian memang terasa berkurang sakitnya. Katanya aku perlu sekitar 4 kali dipijat, baru rematikku bisa sembuh.
Di usia kepala 5 memang mulai banyak gangguan kesehatan, dan ketangguhan agak berkurang.
Untuk alasan pijat itulah aku kembali ke Solo. Kali ini aku mencari hotel dengan kamar yang luas, katakanlah setingkat suite room. Setelah urusan pijat pada siang hari, aku tertidur sampai menjelang sore.
Perutku mulai terasa lapar, aku kurang suka dengan makanan hotel. Dengan baju santai aku jalan ke depan hotel. Beberapa tukan becak mendekatiku dan menawarkan jalan-jalan keliling kota. Kupilih tukang becak yang cukup tua dan kelihatannya ramah. Meski umurnya sekitar 40 an, tetapi tenaganya masih kuat. Aku lalu minta dia mengantarkan ke satu alamat warung soto, salah satu kesukaanku di Solo.
Warung itu terkenal, sehingga tukang becak yang belakangan kuketahui namanya Paino segera mempersilakan aku duduk di becaknya. Dia dalam perjalanan menawarkan aku untuk menyewanya pulang pergi. Aku menyetujui saja.
Ketika sampai ke warung soto, Pak Paino kuajak makan sekalian, tetapi dia kelihatan segan dan agak malu. Setelah kupaksa, akhirnya dia mau juga ikut makan soto bersamaku. Kebiasaan ku memang begitu. Apalah artinya biaya menraktir seporsi soto. Aku kan kemudian bisa mengorek informasi lebih banyak, serta lebih memahami pribadi si Paino.
Pulangnya Paino mulai melancarkan serangan khas tukang becak Solo. “Pak apa perlu dicarikan teman, apa gimana ??” katanya.
“Bapak tau tempatnya, apa ?” tanyaku.
“Wah tukang becak hotel, pasti tau Pak, ada penampungan, ada yang rumahan, ada yang tukang pijet, tinggal bapak mau yang maaa..na ??” katanya dengan logat Jawa yang kental..
“ Punya koleksi STW, ?” tanyaku.
“ STW ada ABG juga ada,” katanya.
“Ah saya lagi pengen yang STW, tapi bukan yang pasaran, ada nggak,” tanyaku.
“ Ada pak, dia malah belum pernah ke hotel, janda dekat gang rumah saya,” kata Paino.
“Orangnya gimana,” tanyaku.
“ Ya kalau menurut saya sih lumayan, janda belum punya anak. Dia pernah ngomong ke saya kalau ada kerjaan mijet tamu hotel, katanya dia mau. Orang nggak punya pak. Kalau bapak mau lihat dulu, monggo saya antarkan,” katanya.
Setelah berbicara agak panjang dan mengatur strategi, akhirnya aku setuju melihat, tetangga si Paino.
Aku minum es kelapa muda dan si janda itu pura-pura beli rinso di warung sebelah. Dia memandangku dan aku pun sempat mencermati dirinya.
Wah lumayan juga, agak gemuk, tampang khas Jawa. Dan mukanya cukup manis.
Setelah dia berlalu aku kembali ke becak, dan aku langsung setuju agar Paino membawanya ke hotel.
Padahal aku baru di pjat oleh Pak Min. Pemijat profesional ini bukan sembarangan, untuk memastikan keberadaannya aku harus telepon jauh-jauh hari. Langganannya banyak dan sering ke luar kota dan keluar negeri. Banyak pengusaha dan petinggi yang jadi pelanggannya.
Nah aku habis dipijat Pak Min, malah pengin dipijat lagi. Masalahnya pijatan Pak Min tadi sakit. Aku sekarang ingin pijatan yang nyaman.
Sekitar satu jam aku menunggu di kamar hotel sampai ketiduran. Aku terkesiap ketika pintu kamarku diketok. Pak Min dan janda itu berada di depan pintu. Pak Min kuselipin limpulRp, dan pemijatnya kusilakan masuk.
Namanya Marni, Dia duduk di kursi dengan menundukkan kepala. Mungkin ini adalah job yang pertamanya, sehingga dia rikuh berada di kamar hotel bersamaku. Kutawari minum, untuk mencairkan suasana, tapi dia menolak.
Aku merokok sebentar sambil membuka obrolan. Marni jadi janda karena suaminya kawin lagi setelah tidak puas karena Marni tidak bisa punya anak. Dia hidup dengan bekerja sebagai buruh cuci. Rumahnya adalah kamar kontrakan yang dibayar bulanan. Dia tinggal bersama keponakannya perempuan yang baru datang dari kampung ingin cari kerja di Solo.
“Sudah pernah mijet mbak,” tanyaku.
“Kalau di hotel, belum, tapi mijet suami dulu sering,” katanya tertahan karena malu.
Dari obrolan itu, suasananya mulai cair. Aku membuka baju hingga tinggal celana dalam dan tidur telungkup. Mbak Marni mulai melancarkan pijatan dimulai dari kaki. Tekanan pijatannya masih kurang nyaman, mungkin karena dia belum mahir.
Akhirnya aku bangkit dan berusaha mengajarkan cara pijatan yang kusukai. Untuk itu Mbak Marni kuminta tidur telungkup. Mulanya dia menolak. Mungkin malu bercampur sungkan, tetapi setelah aku membujuk dan setengah paksa, akhirnya dia pasrah.
Repotnya dia mengenakan kain kebaya dan jarik, jadi agak susah.
Di kamar hotel untungnya ada disediakan kimono, Mbak Marni lalu kuminta melepas bajunya di kamar mandi dan menggantinya mengenakan kimono. Mulanya dia agak malu, tetapi setelah kubujuk-bujuk dia akhirnya mau juga. Sebelumnya aku ikut masuk ke kamar mandi menjelaskan penggunaan kran2 di kamar mandi. Paling tidak kalau dia kebelet pipis tidak perlu ditahan lama-lama, karena bingung cara penggunaan kran air panas, air dingin.
Setelah kamar mandi kututup, tidak lama kemudian terdengar air toilet menggelontor. Ternyata dia memang kebelet pipis.
Mbak Marni keluar dengan kimono. Dia agak malu-malu, meskipun seluruh tubuhnya tertutup rapat. Aku kembali memintanya telungkup dan kuajarkan pijatan dengan tekanan-tekanan di sekitar kakiku.
Setelah dia paham, aku kembali dipijatnya. Pijatannya mulai terasa nyaman dengan tekanan-tekanan yang kuinginkan. Mbak Marni agak nekat juga, dia belum begitu paham memijat, tetapi sudah berani terima orderan pijat. Mungkin karena desakan ekonomi akhirnya dia terpaksa melakukan pekerjaan ini. Menurut Mbak Marni, Painolah yang punya ide agar Mbak Marni mencari tambahan jadi pemijat di hotel. Kata Paino, sekali mijat bisa dapat 100 sampai 150ribu perak. Jumlah itu bagi Marni adalah jumlah yang luar biasa, karena dia kerja sebulan paling hanya dapat 400 ribu. “Lha kalau semalam dapat orderan dua kali, ya udah banyak sekali,” katanya.
Obrolan mereka soal ide Paino itu baru 2 hari lalu. Mbak Marni ternyata doyan ngobrol setelah suasananya cair. Aku yang sebenarnya ingin tidur sambil dipijat jadi terpaksa menimpali omongannya.
Mbak Marni jadi akrab, banyak hal diungkapkannya termasuk kehidupannya ketika masih punya suami dulu.
Tapi masalahnya sebagai tukang pijat pengetahuannya masih boleh dibilang Nol. Aku terpaksa jadi instruktur. Untuk babak mengurut dengan lumuran cream aku minta Mbak tidur telungkup dan aku mengajarinya bagaimana melakukan pengurutan. Kali ini dia tidak lagi canggung. “Wah aku tugase mijet malah dipijet,” katanya.
Awalnya aku mengurut bagian telapak kaki, kiri dan kanan, lalu betis kiri dan kanan. Sampai urusan ngurut betis, kimono mulai tersingkap sampai lutut.
Lutut bagian belakang adalah salah satu titik sensitif wanita. Aku melakukan sentuhan dan urutan khusus di daerah ini. Aku memang rada jahil, tapi ingin tahu juga apakah Mbak Marni terpengaruh dengan sentuhan ku. Terus terang dari tadi aku sudah berfikir untuk menggumuli Marni, tapi aku ingin melalui proses yang alami.
Marni mengaku pijatanku itu enak dan kadang-kadang bikin kemrenyeng. Bisa jadi dia merasa geli atau juga terangsang. Aku tidak minta penegasan apa arti kemrenyeng .
Giliran berikutnya adalah mengurut bagian paha. Sengaja aku tidak menyingkap kimononya, tetapi tanganku menerobos melumasi dan mengurut pahanya. Paha si Marni ini terasa tegap. Ini adalah model paha wanita yang aku senangi. Bagian dalam paha wanita adalah bagian yang juga menimbulkan rangsangan. Aku berkali-kali mengurut bagian itu sampai dekat sekali dengan bagian kemaluannya.
Gerakanku mengurut itu menyebabkan kimononya makin tersingkap ke atas sehingga celana dalam Marni kelihatan. Dia tidak peduli. Malah kadang-kadang beringsut merasakan urutanku yang mendekati bagian kemaluannya. Tanganku kemudian beringsut masuk ke balik celana dalamnya dan mengurut gumpalan bokongnya yang besar. Terlihat benar, jika Marni sudah terangsang. Dia tidak menyadari bahwa dia mulai mendesis sesekali. Bagian gumpalan pantat adalah bagian yang sensitif, dan aku agak lama menekan-nekan bagian itu, sampai dia bergelinjang.
Gerakan urutanku mulai nakal karena jempol kiri dan kananku mulai menerobos belahan pantatnya sampai dekat dengan kemaluannya. Jempolku sudah merasakan bulu-bulu kemaluannya. Tapi Marni tidak perduli. Gerakan jempolku naik dan turun melalui belahan pantatnya semakin membuat Marni melayang.
“Aduh Pak saya nggak tahan lama-lama, rasanya jadi nggak karuan,” kata Marni setengah terengah.
“Tahan dulu biar ngajarinya nggak sepotong-sepotong, saya tuntaskan dulu,” kataku.
Bagian punggung adalah bab berikutnya. Kimono, ketika kuminta dibuka, Marni tidak terlalu mempertahankan, meski dia mengatakan malu. Tapi dengan alasan mengurut punggung, maka dia menyerah membuka kimono sambil tetap tiduran.
Kimono sudah terbuka dan Marni tidur telungkup dengan celana dalam dan BH. Meskipun dia STW tetapi tubuhnya masih berpotongan gitar. Pinggangnya kecil, bokongnya gede, dan susunya juga gemuk.
Mulanya aku mengurut punggungnya dengan membiarkan BHnya tetap terpasang. Namun setelah beberapa saat aku buka kaitan BHnya agar aku lebih leluasa mengurutnya dia tidak protes, alias diam saja.
Marni memuji urut ku benar-benar nikmat. Aku mulai mengurut bagian samping badannya sehingga sesekali menyentuh pinggir payudaranya. Bagian ini juga adalah titik sensitif perempuan.
Aku memintanya berbalik, sehingga telentang. Dia malu, tapi tali BHnya tidak dia pasangkan, kecuali mempertahankan BHnya menutupi payudaranya yang meluber.
Aku cuek dan pura-pura tidak memperhatikan. Padahal aku terkesan tetaknya besar sekali.
Aku mulai lagi dari kaki lagi, tetapi hanya sebentar lalu pindah kebagian paha. Aku kembali mengurut paha bagian dalam, dan kali ini jempolku sudah sampai menyentuh bulu kemaluannya yang terasa agak jarang.
Tanganku menyuruk ke balik celananya dan memijat bagian atas kemaluannya lalu jempolku kiri dan kanan turun sampai menekan gundukan kemaluannya kebawah.
Marni terlihat sudah sangat terangsang sehingga tidak peduli lagi dan rasa malunya sudah sirna.
Jempolku memang belum masuk ke liang vaginanya, tetapi sudah menyentuh clitorisnya. Setiap sentuhan halus si clitorisnya dia menggelinjang. Berkali-kali aku lakukan sampai akhirnya tanpa izinnya aku peloroti celananya. Marni malah ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.