pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


pola - Newest pictures
kerismulyani.pep.zone

Antara musyrik dan Akal bulus penjajah.

Mengapa Keris sering dikambinghitamkan.....?

Artikel ini atas sumbangan: Bambang Suparmanto.
Sore itu, ketika penulis sedang duduk ditepi sungai pepe wilayah gondang tepatnya diseberang makam putri campa, penulis melihat dua orang laki-laki dan seorang wanita yang akan melabuh, dugaan penulis orang-orang itu akan melabuh ari-ari bayi, karena tempat itu biasa dipakai melabuh ari-ari orang yang baru habis melahirkan. Ternyata dugaan itu meleset, karena yang dilabuh bukannya ari-ari bayi, tetapi dua buah keris dan satu buah tombak. Setelah mereka selesai melabuh, penulis mencoba mendekati dan bertanya mengapa keris-keris itu mereka labuh/buang? Maka mereka menerangkan sesuai dengan ajaran Agama yang mereka anut barang siapa yang memiliki keris, tombak, pedang, dls supaya dibuang agar tidak menjadikan musyrik dan tidak dianggap menyekutukan Tuhan. Disinilah penulis mulai merenung mengapa benda-benda budaya yang sangat adi luhung yang memiliki seni yang indah, yang mempunyai nilai historis dan filosofi yang tinggi dijadikan kambing hitam kemusyrikan seseorang? Bukankah musyrik itu tergantung pada pribadi masing-masing orangnya? Tanpa kerispun banyak hal yang menyebabkan orang menjadi musyrik. Mungkinkah mereka-mereka itu sering melihat film-film sinetron Indonesia karena dalam film-film sinetron Indonesia sering ditampilkan seorang dukun yang jahat selalu memiliki keris? Atau mereka-mereka itu orang-orang yang tidak pernah membaca dan membuka mata sejarah pengembangan agama Islam di Jawa?
Pada pengembangan dan penyebaran agama Islam di Jawa yang dilakukan oleh Wali Songo, para wali-wali itupun memiliki keris. Tercatat, Sunan Kalijaga memiliki keris Carubuk, Sunan Giri memiliki keris Kala Munyeng dan Sunan Kudus dengan keris Setan Kobernya yang kemudian dicuri Prawata untuk membunuh Sekar Seda Lepen ayahnya Haryo Penangsang, demikian juga dalam era perjuangan melawan penjajah Belanda; Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Kyai Maja, Alibasah Sentot Prawiradirja. Mereka adalah orang-orang yang saat taat dalam agama, didalam perjuangannyapun tidak pernah ketinggalan memakai keris, apakah mereka-mereka itu menjadi musyrik?
Disinilah kemudian penulis berpendapat, apakah kita tidak pernah berfikir sedikitpun bahwa mengkambinghitamkan keris atau benda-benda budaya ini merupakan upaya penjajah (Belanda) yang diselipkan dalam agama yang bertujuan untuk melenyapkan senjata pada khususnya dan budaya pada umumnya. Karena, keris, tombak, pedang saat itu merupakan senjata rakyat yang dipakai untuk melawan penjajah (Belanda). Dan budaya merupakan jati diri suatu bangsa, maka suatu bangsa apabila telah kehilangan senjata dan budayanya, bangsa itu telah kehilangan jati dirinya, sehingga mudah sekali pengaruh-pengaruh asing masuk untuk menghancurkan keberadaan suatu bangsa.
Dan sesungguhnya keris merupakan karya budaya yang sangat adi luhung. Tidak beda dengan karya budaya yang lain misalnya, tari dan tembang, keris juga memiliki dasar filosofi yang sama yaitu: WIRAGA, WIRAMA dan WIRASA.
WIRAGA > diwujudkan dalam bentuk dapur yang ditentukan oleh ricikan-ricikan, beda ricikan beda dapur. Didalam kehidupan, wiraga melambangkan keragaman bentuk manusia dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri (instropeksi).
WIRAMA > diwujudkan dalam keselarasan atau keserasian keris dengan tidak meninggalkan aturan atau pakem ( laras lan leres ). Ini merupakan lambang bagaimana seharusnya kita menjalin hubungan luar/menciptakan keharmonisan dalam keluarga, membuat keselarasan didalam hubungan dengan tetangga atau masyarakat dan juga menjaga keseimbangan didalam menggunakan sumber daya alam.
WIRASA > merupakan rasa yang ditimbulkan keris terhadap pemiliknya atau kesan keris terhadap orang yang melihatnya misalnya, kesan nyatria, gagah, wibawa, anggun, wingit, dsb. Didalam kehidupan, wirasa ini melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam bentuk sikap manusia dalam menjalani tugas kehidupannya.
Maka, dengan melihat keris saja sesungguhnya kita telah diberi petunjuk bahwa dalam hidup ini kita harus selalu instropeksi, bisa menjaga hubungan baik dengan lingkungan (manusia dan alam) dan tidak lupa untuk taat beribadah dan selalu berdo'a.


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.