pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


other.1.pep.zone

Nafsu Binal Mbak Wulan

Nafsu Binal Mbak Wulan

Namaku Benny, peristiwa ini sudah terjadi lama, ketika aku masih SMA kelas 3. Saat itu aku masih perjaka ting? “main sabun?adalah satu²nya pelampiasan sex ku. Aku punya seorang teman akrab, namanya Anton. Dia tinggal menumpang di rumah kakak lelakinya, Mas Har. Orangtua Anton tinggal di kota kecil A yg jaraknya kira?sejam perjalanan dari kotaku. Mas Har sudah beristri, namanya Mbak Wulan. Mereka belum dikaruniai momongan saat itu. Jadi serumah hanya ada mereka bertiga krn Mbak Wulan memang nggak punya pembantu.

Hubunganku dgn keluarga Anton (Mas Har & terutama Mbak Wulan) sudah sangat akrab. Mereka sudah seperti kakak kandung sendiri. Aku sering menginap di tempat Anton demikian pula sebaliknya. Jadi sudah tidak ada kecanggungan sama sekali di antara kami.

Mas Har orangnya agak pendiam, kebalikan dgn Mbak Wulan yg sangat bersahabat. Secara fisik Mbak Wulan tidaklah istimewa. Usianya saat itu sekitar 30 thn. Bodinya pun biasa saja, agak kecil malah. Tingginya sekitar 155 cm, badannya ramping. Kulitnya tidak terlalu putih tapi sangat mulus dan bersih krn dia rajin merawat tubuhnya. Wajahnya tidak terlampau cantik tapi cukup manis, lesung pipit selalu menghias pipinya. Yg paling menyenangkan dari Mbak Wulan adalah pembawaannya. Orangnya sangat ramah dan murah senyum. Diam?aku mengidolakan Mbak Wulan, kalau punya istri aku ingin yg seperti Mbak Wulan.

Saat itu aku sedang libur sekolah sehabis ujian. Pagi kira?jam 9 aku ke tempat Anton untuk mengajaknya main badminton. Aku masukkan Yamaha kesayanganku ke halaman rumah Anton. Mbak Wulan yg menyambutku di pintu sambil tersenyum.

“Anton mana Mbak??
“Wah dia barusan pulang ke A, kemarin sore di telpon ibu disuruh pulang. Kamu janjian sama dia, Ben??
“Ndak Mbak, cuman mau ngajakin badminton kok. Ya sudah Mbak, aku pulang aja.?

Aku sudah hendak menstarter motorku lagi.

“Eh Ben, bisa bantu Mbak ndak? Itu video kasetnya kusut di dalam ndak bisa keluar. Mas Har kan sudah seminggu training di Jakarta, Mbak ndak berani betuli sendiri takut malah makin rusak?
“Oke Mbak.?

Motor aku standardkan lagi dan aku bergegas masuk ke dalam. Aku langsung ke ruang tengah tempat TV dan videonya berada, ambil obeng di laci, terus aku bongkar itu video. (Tolong jangan ditertawakan ya, waktu itu memang belum ada yg namanya VCD). Mbak Wulan sudah masuk ke kamarnya lagi. Tidak sampai 10 menit kaset kusut yg terselip di rol dalam video itu sudah berhasil aku keluarkan, dan videonya sudah aku rapikan lagi. Aku buka laci tempat kaset video, aku comot sembarang kaset yg paling atas aja. Maksudku aku mau cobain, sudah bagus belum hasil “reparasi”ku.

Kaset aku masukin dan langusng aku Play. Ternyata yg aku comot tadi adalah kaset BF. Aku memang sudah tdk asing dgn film BF, maklum anak umur segitu. Kaset yg aku buat coba itu BF Asia, nggak tahu Thailand atau Filipina. “Mumpung Mbak Wulan di kamar,?aku pikir sambil coba video aku lihat BF dulu soalya jarang lihat BF Asia. Sekitar 5 menit aku nonton video, aku mulai terangsang juga, aku jadi agak lupa sama Mbak Wulan.

“Hayo ?nonton apa?

Suara lembut Mbak Wulan mengagetkan aku. Aku tdk sadar kalau Mbak Wulan sudah keluar dari kamarnya krn aku memang membelakangi pintunya sambil duduk di karpet bersandar di sofa. Aku buru?bangkit mau mematikan video sambil tersipu malu.

“Anu Mbak ? cuman mau coba videonya, ambil kaset sembarang aja.?
“Jangan dimatikan Ben, Mbak juga mau nonton ah, temeni ya …” Mbak Wulan berkata dgn nada menggodaku.

Akhirnya kami berdua nonton BF sambil duduk di karpet bersandarkan sofa yg empuk. Mula?aku salah tingkah juga krn kehadiran Mbak Wulan. Tapi lama?terbawa oleh panasnya adegan di video, aku jadi lupa akan Mbak Wulan yg berjarak kurang dari semeter di kiriku. Aku sudah terangsang dan tanpa bisa dikomando, penisku sudah menegang dgn sendirinya. Pikiranku sudah betul?dimabokkan oleh tubuh?berkeringat yg ada di pandanganku. Tak sedetik pun aku mengalihkan tatapanku dari layar TV. Apalagi saat adegan blow job diperagakan si cewek thd si cowok.

“Ben, .. kamu pengin diemut kayak gitu??

Suara lembut Mbak Wulan yg medok bhs Jawanya membuat aku terkejut. Tanpa sadar aku cuman bisa mengangguk pelan. Mbak Wulan beringsut mendekatiku dan dgn kode tangannya menyuruh aku duduk di sofa. Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja duduk di sofa. Celana olahragaku yg komprang dan CD ku dipelorotkan oleh Mbak Wulan dgn sekali sentakan. Aku sudah tdk ingat lagi siapa Mbak Wulan itu. Batang penisku sudah berdiri tegak. Kepalanya sudah berwarna merah tua tanda darah sudah mengumpul disitu. Lendir sudah membasahi kepala penisku sehingga tampak makin mengkilap.

Sambil masih bersimpuh di karpet di hadapanku, jari?lentik Mbak Wulan mulai mengelus batang kemaluanku. Tanpa ber-kata?lagi Mbak Wulan mulai menciumi batang penisku. Lidahnya mulai me-nari? Dimulai dari bawah di kantong bijiku, lidah Mbak Wulan menggelitik terus merambat ke atas sampai di kepala penisku. Sampai disana, Mbak Wulan memasukkan penisku ke mulutnya, dihisap sedikit. Lalu dikeluarkan lagi dan dia mulai menjilati dari kantong bijiku lagi. Begitu seterusnya sampai tak seinci pun kulit kemaluanku yg tidak dijamah oleh lidah gesit Mbak Wulan. Kadang Mbak Wulan hrs bergeser sedikit demi menikmati seluruh permukaan penisku.

Aku betul?lupa segalanya. Yg kuingat hanya kenikmatan yg belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa kegelian krn jilatan lembut Mbak Wulan di penisku. Rasa geli bercampur kenikmatan sampai terasa di ujung jari kakiku. Nafasku mulai memburu. Aku tahu tidak lama lagi penisku akan memuntahkan lahar panasnya.

Tiba?Mbak Wulan merubah gayanya. Sekarang dia memasukkan seluruh batang kemaluanku yg memang tidak terlampau besar itu ke dalam mulutnya yg mungil. Lidahnya terus menggelitik tongkat kenikmatanku yg ada di dalam mulutnya. Aku makin tak tahan dan mulai menggelinjang menahan kenikmatan yg tiada taranya ini. Rupanya Mbak Wulan merasakan tubuhku makin menegang. Mulut dan lidahnya masih sibuk dgn penisku, tangan kirinya mengelus lembut perut bagian bawahku dan
jari?tangan kanannya meremas serta menggelitik kantong bijiku. Kepalanya digerakkan meng-angguk?sehingga kulit penisku yg sudah sangat sensitif ter-gesek?bibirnya yg tipis itu.

Makin lama gerakan anggukannya makin cepat. Aku sudah tidak punya pertahanan apa?lagi. Tanganku sudah meremas lembut rambut Mbak Wulan sambil sesekali menekan kepala Mbak Wulan. Gerakan kepala Mbak Wulan makin menggila.

“Ahhhhhhhhhhh crotttt crooot crooot?

Aku rasakan kenikmatan yg tdk bisa digambarkan dgn kata?sambil menyemburkan maniku di dalam mulut Mbak Wulan. Mbak Wulan tampaknya tdk terkejut dgn semburan itu, dia terus saja menggerakkan kepalanya sambil menyedot air maniku. Kenikmatan itu masih belum menghilang sekalipun ejakulasiku sudah tuntas. Mbak Wulan masih terus menghisap penisku tanpa sekali pun pernah mengeluarkannya dari mulut mungilnya. Setelah beberapa saat demikian teganganku mulai menurun. Gerakan kepala Mbak Wulan juga mulai melemah. Dgn gerakan sangat pelan dan lembut, bibirnya tetap mengatup batang kemaluanku, Mbak Wulan mengangkat kepalanya sampai seluruh penisku terlepas dari mulutnya.

Ah, aku betul?merasa di puncak surga dunia. Ini untuk pertama kalinya aku di blow job. Penisku masih berdiri sekali pun sudah tidak setegang tadi, mengkilap krn air liur Mbak Wulan tanpa ada tanda setetespun dari air maniku. Mbak Wulan memandangku tersenyum sambil bergerak bangkit duduk di sampingku. Dia mencium pipiku dgn mesra aku pun membalasnya.

“Makasih Mbak, tadi nikmat sekali. Mbak Wulan pinter.?
“Mbak juga seneng kok Ben, pejuhmu enak, ndak amis. Kamu baru pertama kali ini diemut ya Ben??
“Iya Mbak,?jawabku malu?

Kami meneruskan nonton BF yg memang belum selesai sambil duduk berpelukan. Kadang?kami saling berciuman dgn mesra, tapi aku masih belum berani menjamah Mbak Wulan. Kalau ingat saat itu aku suka geli sendiri. Bagaimana tidak, kami duduk berdampingan, Mbak Wulan masih berpakaian lengkap daster baby-doll, sedangkan aku masih telanjang celana tapi masih pakai kaos olahraga.

To be continued ?.

Kami terus menikmati adegan demi adegan di layar kaca sambil duduk berpelukan di sofa itu. Saling cium mesra menjadi bumbu menonton kami. Makin lama aku mulai terangsang lagi. Penisku mulai berdiri lagi. Mbak Wulan rupanya memperhatikan hal ini. Tangan kirinya mulai mengelus lembut batang kemaluanku yg baru saja dipuaskan dgn gelitikan lidahnya. Tiba?Mbak Wulan bangkit berdiri dan mematikan video dan TV.

“Kita ke kamar yuk Ben,?ajaknya.

Kami masuk kamar berdua. Lucu juga. Mbak Wulan menarik penisku yg sudah tegak berdiri sambil membimbingku masuk kamarnya.

“Kaosmu copot aja Ben?

Aku pun melepas satu?busana yg masih melekat di badanku. Agak malu juga aku telanjang bulat di hadapan Mbak Wulan.

“Mbak Wulan copot juga dong pakaiannya,?pintaku

Tanpa bicara sepatahpun Mbak Wulan mulai melepas baju dasternya. Terlihat kulit mulus pundak dan sebagian perut Mbak Wulan yg rata tanpa lemak sedikitpun. Dia masih mengenakan BH warna krem. Kedua tangannya menjulur ke punggungnya mencopot kaitan BHnya. Perlahan dilepasnya BH krem itu. Wow!. Sungguh pemandangan yg indah. Untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung buah dada wanita. Biasanya aku hanya lihat di video atau foto saja. Buah dada Mbak Wulan tidak terlalu besar, seimbang dgn tubuhnya yg ramping itu. Putingnya kecil sebesar kismis, berwarna coklat tua. Tampak kedua puting Mbak Wulan sudah mengeras. Perlahan dgn sengaja sambil menghadap aku, Mbak Wulan membelai payudaranya, kedua tangannya menopang buah dadanya sambil diangkatnya sedikit. Sungguh pemandangan yg merangsang kelakianku.

Kemudian Mbak Wulan melepaskan celana baby-dollnya sekalian dgn CD nya. Sambil agak meliukkan tubuhnya kedua tangannya memelorotkan celananya. Mbak Wulan sudah bertelanjang bulat di hadapanku. Sungguh pemandangan yg sangat menggiurkan. Kulit tubuh Mbak Wulan, sekalipun itdak terlalu putih tapi sangat mulus. Bulu kemaluan Mbak Wulan sangat tipis dan jarang. Aku terus mengagumi tubuh polos Mbak Wulan. Kayaknya Mbak Wulan agak malu juga aku perhatikan seperti itu. Dia berjalan mendekatiku dan memelukku dari depan. Kami saling berciuman. Bibirku melumat bibir Mbak Wulan yg mungil tipis itu. Lidah kami saling menggelitik. Tubuh kami saling lengket. Buah dada Mbak Wulan yg ternyata sangat padat sekalipun tdk besar menekan keras dadaku. Bulu kemaluannya menggosok geli pahaku.

Kemudian Mbak Wulan melapaskan pelukannya terus berbaring telentang di tengah tempat tidur. Dgn tangannya dia memberi kode agar aku berbaring di sisinya. Tanpa perlu disuruh dua kali aku langsung menurutinya. Sambil berbaring aku mencium bibir Mbak Wulan. Aku mulai berani menjamah tubuh Mbak Wulan. Mula?aku belai pundaknya. Tanganku terus mengarah ke buah dadanya. Aku belai lembut payudara Mbak Wulan yg padat itu. Sekali?aku remas dgn mesra, sambil kami terus berciuman. Tangan Mbak Wulan membelai lembut punggungku.

Aku lepaskan bibirku dari bibir Mbak Wulan. Aku mulai ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.