pep.zone
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Multimedia gallery


thegladiators.pep.zone

Dara Kembar

Aku Bramanto. Usia 17 tahun dan bersekolah di SMA 12 Jakarta. Sekarang ini aku sudah duduk di kelas 3, sedang kejadian ini kualami ketika aku kelas 2, tepatnya bulan Agustus 2004. Di sekolah aku termasuk cowok yang mudah bergaul dengan siapa saja jadi aku punya banyak teman dari kelas 1 sampai kelas 3, cowok juga cewek. Dan teman yang paling mengesankan adalah dua orang dara kembar, Dini dan Dina. Mereka adalah adik-adik kelasku yang kukenal waktu MOS yang diadakan sekolahku untuk menyambut siswa baru. Tak ada yang beda dari keduanya kecuali sebuah tahi lalat tipis yang kecil di bawah mata kanan Dina sehingga membuat dua orang bersaudara itu bagai bintang belah dua. Kenapa bintang? Karena keduanya begitu cantik dan karena itu pula keduanya selalu menjadi impian setiap cowok di sekolahku itu.
Dini dan Dina juga terlihat lebih dari teman-temannya karena tinggi badannya yang 160 cm sehingga menambah sempurna wajah cantik dan kulit mulusnya. Dadanya juga aduhai dengan ukuran sedang, 34B, lumayan montok untuk anak berusia 16 tahun. Oh iya, ada tambahan lagi yaitu bokong seksi mereka yang padat dan seksi.

Aku sendiri tidak begitu memperhatikan semua yang telah aku sebutkan tadi tetapi aku lebih suka pada rambut hitam panjang, hidung bangir dan bibir tipis mereka yang merah muda tanpa lipstik. Seringkali aku membayangkan bisa meraba dan mengecup bibir yang sangat sensual itu, namun aku tak pernah membayangkan untuk memaksa mereka karena aku menyayangi mereka.

Hubunganku dengan keduanya sangat baik dan aku suka akan itu. Dan yang paling kusukai adalah panggilan mereka padaku. Mereka selalu memanggilku dengan panggilan kakak. Sementara aku tetap memanggil mereka dengan nama mereka.
'Dina, kita makan yuk!' ajakku pada Dina yang sedang duduk membaca buku di kelas. 'Nunggu Dini dulu, ya!' jawab Dina menghampiriku. 'Memangnya dia kemana?' tanyaku lagi. 'Dia lagi ke toilet, tapi sudah lama kok belum kembali juga ya?' kulihat nada bingung di wajah Dina. 'Kususul ya!' aku setengah berlari ke belakang. Teriakan Dina yang memanggilku tak kudengar lagi. Aku sampai di toilet. Untuk pria yang kanan dan yang kiri untuk wanita. Masing-masing terdapat 10 buah kamar mandi yang berukuran 2x4 meter. Aku berjalan di lorong. Tidak terdengar ada suara-suara yang menandakan ada yang sedang berada di dalam. Namun ketika aku sampai di tengah-tengah, aku mendengar ada orang yang berada di dalam toilet pria dan saat itu aku sangat terkejut karena terdengar suara desahan dan erangan wanita dari dalam.
Erangan dan rintihan itu sangat kecil dan kalah oleh suara air yang mengalir dari kran. Namun cukup tertangkap jika didengarkan dengan seksama. Hingga akhirnya suara itu berhenti setelah agak lama terdengar. Aku segera masuk ke toilet yang ada di sebelahnya tanpa mengunci pintu sehingga dapat mengintip keluar. Kudengar suara engsel pintu di buka lalu keluarlah seorang cowok. 'Indra...!' bisik hatiku. Rupanya ia yang di dalam. Dan aku yakin sekali jika dia sedang esek-esek di dalam. Ketika ia sudah menghilang, pasangan Indra yang ada di dalam belum keluar juga dan itu membuatku menjadi penasaran. Aku pun menerobos masuk ke dalam. Seorang wanita sedang membungkuk dan dengan wajah pucat sangat terkejut melihat kedatanganku. Aku mengira bahwa ia baru saja muntah-muntah.

'Dini...!' aku terbeliak tidak percaya. Aku berharap semua itu hanya mimpi. 'Kak Bram...Aku tidak...!' ia menangis dan menabrakku. Kulepaskan pelukannya lalu kubawa ia keluar. Aku takut kalau ada yang memergoki kami berduaan di dalam toilet. 'Dini ngapain di dalam sama si Indra itu?' tanyaku. Dini sesengukan. 'Dini bisa jelasin, Kak!' ia menyapu air matanya. Lalu mulai bercerita. Tadi pagi Dini ada ulangan harian Fisika dan Dini kesulitan mengerjakan soal-soalnya karena malamnya nggak belajar jadi terpaksa Dini nyontek. Tanpa Dini sadari ternyata Indra mengetahui Dini nyontek.' ia berhenti lalu melanjutkan, 'Dia tahu kalau Dini dapat nilai 10 jadi dia mengancam Dini untuk...' kata-katanya menggantung. 'Untuk apa, Din?' aku jadi begitu panas.
'Untuk meng-oralnya...Jika tidak ia akan melaporkan perbuatanku pada Bu Mia.' aku begitu terkejut ketika mengetahui semua penuturan Dini. Rupanya itulah yang tadi membuat ia muntah. Kulihat ia kembali menangis. 'Sudah, Din. Nanti Kakak yang akan bikin perhitungan dengan si brengsek Indra itu.' kupeluk tubuhnya yang lebih pendek 10 cm dariku. Aku merasa ada tekanan menggairahkan dari dadaku yang menempel di dada Dini. 'Kak, Dini boleh bilang sesuatu.' kulepaskan pelukanku dan kutatap matanya. 'Dini mau bilang apa?' suasana sepi di samping sekolah itu bertambah sepi dengan berdiamnya kami berdua. 'Dini suka sama Kakak!' bisiknya lirih. 'Dini...!' kukecup kening Dini yang kulihat ia memejamkan matanya.
***
'Terus si Indra, kakak apain?' tanya Dina ketika kami bertiga sedang duduk di ruang tamu rumahnya. 'Cuma dikasih bonyok doang, tapi kayaknya besok dan seterusnya dia nggak akan masuk lagi.' jawabku. Dini dan Dina keheranan, 'Kok bisa?' tanya mereka. 'Ya iyalah, siapa dulu, Bram!' jawabku. Si kembar tertawa girang lalu berlompatan ke sampingku. Mereka memelukku dari samping. Aku pun merangkul keduanya. Kurasakan Dini dan juga Dina merapatkan tubuhnya sehingga payudaranya yang padat terasa begitu menekan di rusukku. Aku begitu menikmatinya. Hangat yang kurasakan dari tubuh kedua gadis itu terasa menggelitik libido seks-ku. Dan tiba-tiba tangan Dini meraba-raba dadaku sementara Dina meremas burung milikku yang mulai memegang. 'Oh...Dina...!' erangku nikmat ketika tangan Dina bergerak meremas dengan lembut. Begitu nikmat.

Dini melumat bibirku sementara aku merasakan nikmat yang begitu hebat karena tanpa kulihat bagaimana kronologinya, penisku sudah berada di dalam mulut Dina. Aku ingin mengerang tapi mulutku sedang dilumat Dini. Tanganku bergerak sebisanya, meremas dada Dini yang begitu padat. Tangan Dini pun bergerak melepaskan pakaianku setelah celana panjangku sudah dari tadi dilepaskan Dina. Setelah aku bugil, Dini melepaskan bibirnya lalu Dina naik mencari bibirku. Ternyata ia sudah bugil. Aku begitu terangsang sehingga tubuh seksi itu kudekap erat lalu bibirnya kulumat dan dadanya kumainkan dengan nikmatnya. Sementara itu Dini melepaskan seluruh pakaiannya. Setelah itu kurasakan ada yang kembali mengulum penisku. Aku melonjak kenikmatan. Semuanya terasa begitu hangat dan nikmat. Hanya ada deru nafas penuh nafsu di ruangan itu.
Rasa nikmat yang mendera tak kuasa lagi kutahan. Dan tanpa sempat bicara, sperma hangat muncrat di dalam mulut Dini yang terus mengulum. Kurasakan ngilu yang begitu nikmat ketika mulut Dini terus menyedot habis air maniku. 'Kakak sudah tak kuat,' kataku sambil melepaskan mulut Dini dari penisku setelah sebelumnya merebahkan Dina di atas sofa. Lalu mereka berdua duduk berdua duduk berdampingan di lantai dengan bersandar di sofa. Sementara aku duduk di paha mereka dengan lutut menyentuh vagina mereka. 'Oh...Kak...!' suara Dina bergetar hebat ketika mulutku melumat dadanya dan mengulum puting susunya dengan nikmat. Sementara itu dada Dini kuremasi satu per satu dengan tangan kiriku. Ia hanya menggelinjang enak ketika jari-jariku bermain di dada indahnya itu.

Setelah puas bermain-main di dada Dina yang lebih menggoda dari pada dada Dini, aku pun berpindah. 'Enak sekali, Kak! Oh...!' Dini membelai rambutku ketika mulutku memainkan puting susunya yang sangat kenyal dan sudah mengeras. Buah dada perawan yang begitu kuinginkan itu akhirnya dapat juga kurasakan. Ternyata dada Dini tak kalah dibanding dada Dina, cuma punya Dina lebih besar sedikit. Lalu aku turun ke selangkangan Dini yang sudah mulai ditumbuhi rambut kemaluan. 'Ahh...Kak...woww...!' erang Dini ketika klitorisnya mulai kujilat dan kuemut. Sementara vagina Dina kuobok-obok dengan jempol. Basah. Keduanya merintih menikmati layananku. Dan aku sungguh sangat bergairah malam ini karena penisku sudah tegak lagi.
Aku terus menjilati vagina Dini ketika kurasakan tubuhnya mengejang hebat. 'Ahhh...akhh...ohhh...!' kutatap wajah Dini yang begitu cantik ketika melepaskan segala beban dan merasakan nikmatnya orgasme sebuah orgasme. Setelah itu Dini terkulai lemas di lantai. Lalu aku berpindah ke vagina Dina yang sudah menanti lidahku. 'Ouch...Kak...enak...!' dia meremasi dadanya sendiri untuk melampiaskan segala rasa nikmat yang menekan di vaginanya. Vagina yang begitu seksi itu terus kulumat dan lidahku menari-nari memainkan klitoris merah Dina. Ia terlonjak dan matanya terbeliak. 'Akkhh...ahh...ohh...!' erangan dan tubuh Dina yang mengejang cukup memberi tahu bahwa ia sudah mencapai puncak pertamanya. Kupandangi wajah-wajah bersimbah keringat yang dua-duanya terkulai lemas di depanku.

Sebenarnya saat itu aku sudah tidak tahan lagi untuk segera merasakan bagaimana nikmatnya berada dalam vagina perawan tapi ketika melihat Dini dan Dina tak berdaya, aku berusaha menahan keinginanku. Namun rupanya walau lelah mereka juga merasakan apa yang aku rasakan, kenikmatan yang sebenarnya. Tapi mendadak aku bingung karena tidak mungkin aku bisa melakukannya langsung dua, perawan lagi. 'Satu ngalah dulu, ya!' kataku pada si kembar cantik itu. 'Kenapa, Kak? Nggak kuat lagi nih!' jawab Dina. 'Kalian masih perawan masalahnya. Kan pertama itu harus pelan,' kataku lagi sambil mengecup bibir Dina. 'Iya memang Dini sama Kak Dina belum pernah begituan tapi kami sering...Onani, sambil berfantasi,' jawab Dini. Aku kaget, kecewa namun senang.

Aku bangkit lalu mengangkat tubuh Dina berbaring di meja tamu yang setinggi lutut dan aku duduk di atas pahanya. 'Dini berdiri di sini,' kataku menyuruh Dini berdiri di depanku sehingga vaginanya tepat berada di depan wajahku. 'Ayo mulai, Dina!' tangan Dina menuntun penisku memasuki daerah kewanitaannya dan dengan sekali tekan, batang kemaluanku amblas menerobos lubang kenikmatan Dina. 'Ohh...akhh...Kak,' rintihnya ketika rasa nikmatnya gesekan dinding vagina dengan penisku terasa. Sementara aku menahan nikmat itu dengan menjilat liang vagina Dini yang terbuka lebar. Aku bergoyang sambil memegang bokong Dini dan terus meng-oral vagina Dini. Namun aku berusaha keras untuk menahan desakan-desakan air cinta yang ingin menyembur. Desahan dan rintihan nikmat Dina dan Dini terus terdengar dan diselingi olehku sesekali.
'Dina sampai...Akhhh...akhhh...!' kurasakan vagina Dina menjadi lebih hangat dan licin ketika tubuhnya meregang nikmat merasakan orgasme keduanya. Hampir saja aku melepaskan semuanya jika aku tidak ingat pada Dini yang masih merintih nikmat karena permainan oral seks-ku. Perlahan kulepas penisku dari vagina Dina. Lalu kurebahkan tubuh Dini di sofa. Dan dengan perlahan juga aku menindihnya setelah menyelipkan kepala penisku yang begitu basah di bibir vaginanya. 'Ouggh...ahh...!' kurasakan lagi nikmat itu. Begitu juga Dini yang badannya sudah menggigil merindukan tusukan nikmat itu. Kali ini aku menyebadani Dini seperti seorang istri. Kami sama-sama bergoyang dan saling memagut dengan nikmat. Dan aku pun tak sanggup lagi menahan semuanya. 'Dini, kakak keluar...' erangku mulai mengejang.
'Dini juga, Kak...!' Dini memeluk tubuhku dengan sangat erat. 'Akhh...ahhh...ahh...!' kami orgasme bersamaan. Tubuh kami bergetar hebat merasakan orgasme yang begitu hebat. Aku diam tanpa melepas penisku dari dalam vagina Dini yang begitu hangat untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang tersisa. Setelah puas, aku pun berguling dan duduk di lantai sementara Dini terkulai lemah di atas sofa dan Dina masih berbaring di atas meja dengan tubuh lemas. Aku hampir tertidur ketika ada yang menggoyang-goyang tubuhku. 'Bram...Bangun, sudah subuh.' aku pun bangun. Ternyata aku hanya bermimpi. Tapi aku merasa celana dalam yang kupakai basah.
***


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.